23.6.10

Finally, I Said Goodbye...!

Baru kali ini aku merasa telah melakukan hal yang paling benar. Bahkan lebih bangga rasanya jika dibandingkan dengan kegiatan membela kebenaran-ku selama ini. Karena ini adalah kebenaran untukku sendiri. Sebuah perjuangan yang telah kulakukan, dan kemenangan yang kuperoleh semata-mata hanya demi aku dan kebahagiaanku.

Aku melihatnya lagi. Meski hanya dari sebuah foto. Dan dia tidak sendiri. Dia tersenyum. Dia bahagia. Dia berada dalam dunianya. Dan dia sangat berbeda.

Dia bukan lagi sosok terpuruk seperti yang pernah kukenal. Dia bukan lagi sosok yang menari sendirian dan butuh uluran tangan untuk memapahnya. Dia bukan lagi sosok yang lelah untuk menggapai bintang terindahnya...

Aku memang sudah melakukan hal yang bodoh dengan kembali mengusik hidupnya, tapi seorang teman menyadarkanku dengan berkata

Temanku: Untuk apa lagi? Kamu sudah bahagia, dia pun juga sudah bahagia... Janganlah kamu merusak semua kebahagiaan itu dengan keegoisanmu
Aku: Aku nggak mau apa-apa. Aku hanya ingin bilang dan mengutarakan semua perasaan ini. Aku ingin meluapkan semua rasa nggak enak agar aku bisa hidup tenang
Temanku: Lalu? Kamu yakin setelah itu kamu akan hidup tenang? Kamu yakin semuanya nggak akan menjadi lebih buruk? Apa kamu sudah memikirkan segala akibatnya?...
Aku: .....
Temanku: Sudahlah, simpan saja semua itu didalam hatimu. Anggap sebagai satu-satunya kenangan indahmu bersamanya... Jangan berusaha melupakan dengan cara menghapus semua ingatan, tapi lupakan dengan cara mengenang...

Shhh... Kalimat itu ada benarnya juga. Apa yang kukejar selama ini? Aku sudah bersikap naif dengan meyakinkan diriku bahwa aku hanya ingin 'bicara', bukan yang lain. Sounds pity, right? Padahal jelas-jelas aku masih mengharapkan hal lain. Konsekuensi yang tidak akan bisa aku terima...

So... Setelah bertahun-tahun, berbulan-bulan, dari satu masa ke masa yang lain, diwarnai berbagai perasaan, harapan, rasa putus asa, tawa, dan air mata... Akhirnya aku bisa mengatakannya...

kalimat yang sudah kujawab sendiri
yang selama ini hanya menganguk-anguk
yang selama ini berbicara tanpa kalimat

beribu kata sejuta makna 
ku lempar begitu saja tanpa ada yang tahu
pletak-pletuk jelas sekali terdengar
yang tersisa hanya setetes pena biru dan secuil kertas
berlahan kumerangkak mencoreti kertas itu
ahhhhh
lega juga rasanya
benar suatu pegertian yang bearti

satu malam, dua siang
500hz mancap ditelingaku
1000hz keluar begitu saja
berdua berteman dengan bintang
melanjutkan sinar pagi tadi pagi
melelahkan ternyata

sampai disini saja garis perjuanganku
selamat tinggal bintang... semoga kau tetap bercahaya diatas sana...

0 komentar:

Posting Komentar