29.6.10

Mengangkat Hidup

Hidup ini penuh dengan pilihan. Seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan berat yang wajib kita pilih saat itu juga. Kita bingung? Pasti!... Tapi dibalik semua kebingungan itu, tentu ada satu hal yang bisa kita petik. Bahwa kita akan belajar lebih dewasa. Dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Kita tak perlu takut apakah pilihan kita benar atau salah, karena semua pilihan pasti ada jalannya sendiri. Sebuah pilihan bisa dianggap benar setelah kita sukses melalui proses perjuangan dan pendewasaan yang panjang. Dan jika pilihan kita ternyata salah, kita masih punya waktu untuk berjuang dan membuatnya menjadi benar. Rumit? Yah, intinya semua pilihan itu kita sendiri yang menentukannya...

Mengapa aku berbicara panjang kali lebar tentang sebuah pilihan? Ini karena pembicaraanku beberapa menit yang lalu di YM dengan salah satu sulmetku (diadaptasi dari kata soulmate). Si Sulmet ini sedang dilanda kebingungan yang sangat karena dia harus memilih antara cinta dan karir. Masalah sebenarnya sih soal karir. Dia sebagai anak pertama dituntut oleh keluarganya untuk mengejar si karir itu. Dan ini berarti ia harus mengorbankan hidupnya sekarang, bahkan cintanya... cieee... romantis banget to?

Sebenarnya tidak setragis itu juga sih... Sulmet ini hanya (sedikit) dipaksa orang tuanya untuk bekerja dan mengejar karirnya di negeri seberang. Nggak jauh, hanya di seberang laut sana yang jaraknya cuma beberapa senti didalam peta Indonesia. Bukan tempat asing juga karena disanalah dia dilahirkan. Tapi, nggak semudah itu. Dia sudah hidup disini sejak kecil. Dikota inilah dia mengisi hari-harinya dengan tawa dan air mata. Disini ada sahabat dan cintanya yang nggak mungkin dia tinggalkan begitu saja.

Awalnya aku keheranan waktu dia cerita, kenapa baginya masalah ini berat banget? Bukannya tinggal bilang kalo dia berat berpisah dengan hidupnya sekarang? Dia juga seorang cewek, yang tidak wajib untuk mengejar karir. Disini dia juga sudah bekerja, dan gajinya juga lumayan gede. Lalu what's the problem?...

Dia diam beberapa saat saat aku menanyakan soal itu, lalu menjawab hanya dengan mengutip satu kalimat yang dilontarkan ibunya " yo wes terserah! Diatur agar mengangkat hidup keluarganya ko nggak mau!"

Aku berpikir sejenak... Mengangkat hidup? Sepenting itukah? Setahuku Sulmet itu berasal dari keluarga yang termasuk berada. Bahkan gaya hidupnya jauh lebih mewah daripada aku... Lalu mengangkat hidup seperti apa lagi yang dimaksud?

Kalau begini, aku nggak bisa berkata-kata lagi. Karena sudah jelas ini pilihan mutlak yang harus dipilihnya. Karena jika ia menolak, terlalu besar beban yang harus ia tanggung. Selain (mungkin) ia dicap anak durhaka, dia juga harus membuktikan bahwa disini dia juga bisa sukses. Dan itu jelas lebih berat karena disana sudah ada pekerjaan yang menunggunya, sementara disini dia harus berjuang sendirian. Tapi tidak seburuk itu juga, karena masih ada satu kabar baik. Orang tuanya menyanggupi untuk mengajak si Pacar juga kelak. Nah! So what are you waiting for?...

Pilihan berat seperti inilah yang aku bicarakan diatas. Paling nggak, pilihan ini cukup berat bagi Sulmet. Dia harus rela mengorbankan perasaannya untuk berpisah dengan orang-orang yang disayanginya disini. Tapi hidup masih panjang. Teman ada dimana-mana. Apalagi sekarang situs jenjaring sosial juga marak. Dan soal cinta, jodoh itu tak akan kemana bukan? Mungkin kali ini Sulmet harus bersikap dewasa. Dia harus bisa berpikir jauh dan bertindak dengan benar... :)

27.6.10

Permintaan Pertama dan Terakhir

Terdiam menunggu...
Menghitung jarum jam yang selamanya bergerak dengan tempo yang sama
Meremas jemari
Menggigit bibir
Menyibak rambut yang tergerai di bahu

Dan ketika mereka datang
Ia berusaha tersenyum...
Menutupi kegelisahan yang memporakporandakan jantungnya
Sebentar bicara A... Lalu beralih ke B... 
Pembicaraan itu mulai terasa basi

Akhirnya sampailah mereka pada Z...
Ia menahan nafas
Tak bisa menebak apa jawaban mereka
Tak tahu bagaimana akhir dari pertanyaannya selama ini

Mereka pun menjawab dengan lantang
"TIDAK..."
"TIDAK..."
"TIDAK!"
3 kata tidak sudah cukup meruntuhkan bendungan asanya
Jadi begitu?... Tapi mengapa?... Karena ini?...
Apakah ia kurang banyak mengemis?
Apakah tampangnya kurang memelas?
Apakah ia tidak tampak seperti orang yang butuh pertolongan?
Apakah semua?...

Gontai ia berjalan pulang...
Dan menangis semalaman...

NB: Hidup memang jauh lebih kejam dari sandiwara. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung rasa sakitmu...

25.6.10

Dream Out Loud

Dream Out Loud!!...
Sebuah kalimat yang aku kutip dari salah satu blog tetangga (sori.. tapi lupa alamatnya) tentang kekuatan sebuah Mimpi. Kalimat ini sebenarnya aku temukan sudah lama, tapi kejadian yang kualami kemarin mengingatkanku pada kalimat ini.

Awalnya aku berbicara dengan adik sepupuku tentang mimpi-mimpi kami. Lalu aku tertegun karena dia mengungkapkan mimpinya untuk membuka Kedai Brownies. Aku kaget bukan karena di kota kami membuka kedai seperti itu tentu sangat minim pengunjung, atau juga karena keraguanku pada kemampuan adikku dalam membuat brownies (selama ini selalu saja produk gagal yang dihasilkan), tapi karena dulu adikku memang pernah cerita tapi saat itu aku 100% hanya menganggapnya ISENG.

Benar-benar aneh seorang adikku yang hobi olahraga, lulusan ekonomi, dan nggak pede karena merasa dirinya terlalu gemuk memiliki sebuah mimpi Membuka Kedai Brownies. Aku nggak nyangka kalau ternyata dia sangat bersungguh-sungguh. Selama ini dia gigih belajar membuat brownies, bahkan berusaha menciptakan jenis brownies sendiri. Lalu aku?...

Aku yang selama ini menyebut diriku seorang pemimpi yang selalu membangga-banggakan setiap mimpinya, justru tidak memiliki mimpi 'besar' seperti itu. Ribuan mimpi datang dan pergi dalam otakku, tapi tak ada satupun yang aku tanggapi dengan serius. Aku memimpikan berbagai kisah romantis dalam otakku, lalu semuanya aku tuangkan dalam tulisan atau gambar. Aku punya mimpi untuk memiliki suatu barang, lalu aku menabung untuk mendapatkannya. Berbagai cara aku lakukan untuk membuat semua 'mimpi kecil'ku menjadi nyata. Tapi bagaimana dengan mimpi yang lebih besar? Mimpi yang aku pakai sebagai pegangan untuk melangkah? Mimpi yang bisa dianggap sebagai tujuan hidupku kelak?

Akhirnya aku berpikir sebentar. Memilah dan membagi ribuan mimpi dalam benakku. Dan aku menemukannya!

Aku punya mimpi, suatu saat aku bisa membangun usahaku sendiri. Usaha berlandaskan hobi yang aku kerjakan dengan senang hati. Aku ingin kesuksesanku kelak bisa membuat semua orang disekitarku ikut merasakannya. Aku bisa membuat lapangan kerja bagi orang-orang. Terlalu muluk ya? Hehehhe... Namanya juga mimpi... :P

Intinya... Jangan ragu untuk bermimpi. Gunakan mimpi itu sebagai pegangan yang berguna bagi hidup kita. Dan jika mimpi itu hilang, hancur, dan takkan bisa tergapai lagi, jangan kecewa. Karena ribuan mimpi lain pasti akan datang menggantikannya. Bermimpi itu menyenangkan. Bermimpi itu bisa membuat kita bersemangat. Bermimpi menjauhkan kita dari rasa bosan dalam hidup ini. Dan bermimpi itu salah satu hal yang paling aku sukai didunia... Tapi, jangan lupa juga untuk berusaha menggapai mimpi itu. Karena mimpi tak akan berguna tanpa ada usaha untuk membuatnya menjadi nyata. So...


Lets Dream Out Loud!! :D

Gambar saya pinjam dari sini

Pigura Kadaluarsa di Rumah Mimpi Lana (Cerpuen Tandem)

Malam baru saja datang. Namun percakapan dua insan karib itu sudah panjang. Hampir satu pak roti habis menemani perjalanan diskusi dua (orang yang mengaku)anggota Power Ranger itu.

Lexa melemparkan pandangannya keluar jendela, ke arah langit. Seperti sedang menatap sesuatu disana. Mencari pembenaran akan suatu hal. Penasaran, Lana jadi ikut-ikutan melongok ke arah jendela. Lana kembali mendengarkan khutbah panjang karibnya itu.

CITA-CITA - Lana menerawang, sambil tetap mendengar. Daya tangkapnya bekerja, Search engine otaknya menerima sinyal yang dikirim dari indera pendengarannya. Puluhan milisecond sudah berjalan namun arsip-arsip didalam memory otaknya masih dicari-buka. Bolak-balik. Mondar-mandir. Maju dan mundur, melewati milyaran milisecond yang bernama "ingatan". Adegan flasback yang bolak-balik melewati memori otaknya menyesuaikan apa yang diceramahkan oleh Lexa.

Lana memang tergolong pribadi yang multitasking, jadi sambil mendengarkan celoteh Lexa, Lana pun menerawang. Tak ada hasil yang cukup banyak dalam pencarian sel-sel otaknya malam itu. Baginya "CiTA" ditemukan hanya dalam dua hal, "CITA" nama teman kosnya dan sebuah bayangan Rumah yang berfondasi "MIMPI". Rumah yang selalu bergonta-ganti cat, pernah direnovasi,ditambahkan jendela, pernak-pernik,namun juga bahkan pernah hampir dibongkar paksa oleh pemiliknya sendiri. Dan kini Rumah itu tetap" Ada", namun serasa "kosong". Hampir mirip sebuh kotak besar yang sengaja dianggurkan, entah mulai kapan karena sepertinya sudah cukup lama dibiarkan.

Memiliki cita-cita yang berganti-ganti sejak kecil adalah hal yang lumrah. Siapa juga dari janin, tahu kelak kita akan menjadi siapa, dan apa.. Jadi tidak salah untuk bermimpi. Seperti halnya Lexa, Lana juga mempunyai cita-cita yang berubah-ubah saat masih kecil. Arsitek,Insinyur (padahal itu kan cuma titel entah kenapa ngetren banget untuk dijadikan cita-cita pada akhir 90an saat itu :), pramugari, wartawan, reporter, dan masih banyak lagi deretan capturan foto-foto refleksi cita-cita yang pernah terpigura dan melengkapi RUMAH MIMPI milik Lana itu. Dan sekarang Rumah Mimpi itu sedang berhenti pada satu pigura, entah sebenarnya dia tidak terlalu menggebu-gebu mengginginkannya terpajang di rumah itu. Hanya sebuah cita-cita yang akhirnya tersampaikan dan terealisasikan. Nah apa yang salah dengan mimpi yang terealisasikan, bukankah sebuah kepuasaan batin mimpi telah tercapai ?. TIDAK. jawabannya adalah tidak. Atau bisa dikatakan "BELUM". Lana merasa terjebak dalam mimpinya sendiri. Lana memang sedang berada dalam salah satu impiannya itu. Di masa lampau ia ingin berdiri di titik itu. I dont belong here , kata-kata itu selalu menghantui langkahnya menjalani impian itu. Ia ingin kembali, namun siapa dirinya, ia hanya Lana bukan penguasa waktu. Ia sudah tiba disini, tidak ada jalan kembali, dan waktu takkan pernah kembali. STUCK. Dan jika sudah begini Lana selalu ingat apa yang pernah Lexa katakan "selalu ada jalan di ujung sana, meski sempit".

Lana tersenyum, setelah melihat Lexa menyerukan "AKU" dengan lantang layaknya caleg sedang mendeklarasikan diri.
"Aku tahu ingin jadi apa. Cita-cita yang sejak lama mengalir dalam nadiku tanpa aku sadari."
"Apa?"
"Aku ingin jadi... AKU !"
"WHAT?"
Ah..Aku kira apa. Gila, aku sudah kegirangan ingin mendengar sesuatu yang lebih "wah". Lana meyeringai. Namun, sedetik kemudian otak Lana kembali bekerja. Memang, Tiada impian yang lebih muluk selain menjadi AKU. Hidup ini adalah TENTANG AKU. TENTANG DIRIKU, bukan persepsi tentang aku, bukan impian siapa-siapa melainkan AKU, bukan...,bukan ikut-ikutan menjadi AKU. TAPI ...HANYA AKU. Jadi apakah salahku jika aku tak lagi menginginkanmu MIMPIKU ?. Lana kembali mendirikan tembok-tembok pertanyaan.

"Tapi Lan, kalau bercita-cita jadi AKU, kita harus kuliah mengambil jurusan apa yah?"

Dang!, Lana langsung merasa garing----------------krik..krik...

"Sebaiknya kau segera menjadi Founder sekolah AKU dan mendirikan jurusan AKU, aku bersedia jadi wakil kepala sekolahnya kok ,Deal?"

-Keduanya tersenyum bersamaan-

"Ah, susah sepertinya.. "
"Jelas, ide gila..."
"Bukan seperti itu"
"Maksudmu ?"
"Yap ini memang ide gila "
"Sangat!"
"Namun ,...jika akan benar-benar kudirikan akan sangat sulit menemukan sertifikasi ISO dan akreditasi for SELF Major... a.k.a JURUSAN AKU wakakakakkkkkk..."
"Psiko!!!!!!!,...wkwkwkwkwkkkk"

Suara canda dua gadis itu meledak mengusir sepi kos-kosan di malam itu. Melepaskan kepenatan akan batasan-batasan di dunia nyata.
Dan mulai surut terhenti ketika Lana mulai menancapkan colokan ceret pemanas air.
"Malam ini kita akan melaksanakan upacara minum teh wkwkwkwk.."
"1 1/2 sendok gula,..jangan terlalu panas"
"Ok ibu Kepsek!"

...bip..bip...bip..bip... bip..bip...sebuah ringtone monophone bergaya ala alarm Anggota power Ranger mendapat sinyal bahaya dari markas mem-pause diskusi sementara mereka. Lana berusaha meraih telepon selulernya dan kemudian membaca sebuah pesan singkat.

(To Be Continued)

***

Previous Episode Cita-cita Dalam Nadi

24.6.10

Wajah Baru, Semangat Baru

Hari ini memang bukan hari spesial. Bukan hari ulang tahun, bukan hari gajian, bahkan bukan hari libur. Ini hari Jumat yang 'biasa' saja. Pagi ini aku bangun jam 5, mengantar suamiku berangkat kerja, lalu duduk manis didepan 'leppy' sambil browsing sana-sini seperti biasanya. Tapi ada satu hal yang berbeda. Yaitu aku mengganti template blog curhatanku ini.

Jika ini kunjungan kesekian kalinya anda, maka anda akan mengerti perbedaannya. Tapi jika ini kunjungan perdana anda, perkenankanlah aku menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas.

Dari segi warna, sudah tampak dengan jelas perbedaannya bahkan bagi orang yang (maaf) buta warna sekalipun. Template lamaku yang berwarna hitam dan ungu dan bernuansa gelap, aku ganti dengan warna putih dan violet yang aku rasa lebih lembut. Bahkan, template lamaku sudah aku shift+del dari folder data karena aku tidak mau memakainya lagi.

Hanya ada satu pertanyaan singkat yang muncul, MENGAPA??

Jujur, aku juga nggak tahu alasannya. Mengapa tiba-tiba aku merubah image mendadak seperti ini? Mengapa aku mengganti style EMO yang selama ini sering aku pakai dengan gambar bunga-bunga? Bukankah ini berarti lebih cocok kalau nama blogku juga diganti Bunga Jatuh dan bukan Bintang Jatuh lagi? (ehmm... kayaknya yang terakhir ini agak nggak nyambung). Tapi sekali lagi aku tegaskan, AKU NGGAK TAHU...

Mungkin aku hanya merasa bosan dengan tampilan yang ada selama ini, atau aku terinspirasi ketika melihat blog-blog tetangga, atau juga aku tertarik ketika melihat template ini... Berbagai alasan bisa saja aku sebutkan, tapi memang tak ada satupun yang mengena.

Tapi... Dibalik ketidaktahuan ini, aku melihat ada setitik cahaya  kejelasan. Mungkin... sekali lagi aku bilang mungkin... Semua ini ada hubungannya dengan postinganku berikutnya. Mungkin aku memang ingin sedikit memberi semangat pada diriku sendiri, untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin aku ingin menjadi orang yang lebih simpel dan berusaha semangat.  Dan semoga semua itu benar :))

23.6.10

Sepenggal Kenangan Bersama Timen

Tadi pagi aku ketemu TIMEN! Vespa keramat milik suamiku itu masih tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tetap hitam, stiker Punisher dan logo Spultura pun masih bertengger disana. Sebuah tirai memori seakan tergerai dihadapanku. Mengingatkanku akan semua kenangan kami bersama (bertiga sih... sama suamiku :D)

Vespa yang kami beri nama TIMEN ini merupakan salah satu saksi hubunganku dengan suamiku. Sejak awal kami pacaran, Timen selalu menemani kami. Antar jemput aku sekolah, liburan, konvoi, semua berjalan selama bertahun-tahun.

Salah satu kenangan kami adalah saat kami 'terjun bebas' di Sukorejo. Waktu itu Timen melaju dengan kencangnya menembus angin dari arah Malang. Aku ingat, saat itu hari sudah siang beranjak sore sehingga arus jalan raya tak begitu ramai. Jadi Timen bisa melenggang dengan asyiknya dihamparan aspal. Bahkan Timen tak mengurangi kecepatan saat melalui perbaikan aspal didepan Pom Bensin Sukorejo. Siapa sangka, itu mungkin sumber penyebab utama kejadian berikutnya. Beberapa menit kemudian, Timen tiba-tiba oleng. Aku langsung mempererat peganganku sambil membatin "wah! Ban mau lepas nih kayaknya!..." Suamiku pun berusaha keras tetap mempertahankan keseimbangan Timen sambil mengurangi kecepatan sedikit demi sedikit. Dan setelah sampai di tepi jalan, tepat diatas ribuan kerikil kecil, kami pun terjatuh dengan indahnya. Brukkk!!!

Acara jatuh itu berlangsung cepat dan tidak begitu keras. Tapi keberadaan kerikil yang tak diinginkan disana cukup membuat celana suamiku sobek dan meninggalkan luka menganga dilututnya. Dan aku?... Aku yang jatuh diatas suamiku hanya mendapat bilur membiru di beberapa bagian tubuh. Setelah sanggup berdiri, kami baru sadar ternyata ban Timen bocor dan udaranya habis tak tersisa. Untunglah, tepat di seberang jalan ada Tukang Tambal Ban, jadi kami langsung kesana. Setelah diberi minum, duduk, dan mengambil nafas panjang beberapa kali kami pun tertawa terbahak2 karena menyadari tidak ada satupun orang yang menolong kami. Kami hanya menjadi tontonan disana. Mungkin dibena orang-orang itu berpikir "nih anak ngapain ya jatuh2 sendiri?" hahahaha...

Itu hanya salah satu dari jutaan kenangan kami bersama Timen. Sayangnya, sekarang kami hanya bisa mengenangnya karena vespa keramat ini sudah dijual suamiku 2 tahun yang lalu. Sedih juga, karena aku pengen Timen bisa kami museumkan sendiri. Tapi karena suatu hal, kami harus rela melepasnya.. Yah, sekarang kami sudah punya Timen baru dan jika bertemu Timen lama kami seperti tadi pagi, kami masih bisa melambai, "Hai TIMEN!!! KAMU Baik-baik saja kan disana???!!" :D

Finally, I Said Goodbye...!

Baru kali ini aku merasa telah melakukan hal yang paling benar. Bahkan lebih bangga rasanya jika dibandingkan dengan kegiatan membela kebenaran-ku selama ini. Karena ini adalah kebenaran untukku sendiri. Sebuah perjuangan yang telah kulakukan, dan kemenangan yang kuperoleh semata-mata hanya demi aku dan kebahagiaanku.

Aku melihatnya lagi. Meski hanya dari sebuah foto. Dan dia tidak sendiri. Dia tersenyum. Dia bahagia. Dia berada dalam dunianya. Dan dia sangat berbeda.

Dia bukan lagi sosok terpuruk seperti yang pernah kukenal. Dia bukan lagi sosok yang menari sendirian dan butuh uluran tangan untuk memapahnya. Dia bukan lagi sosok yang lelah untuk menggapai bintang terindahnya...

Aku memang sudah melakukan hal yang bodoh dengan kembali mengusik hidupnya, tapi seorang teman menyadarkanku dengan berkata

Temanku: Untuk apa lagi? Kamu sudah bahagia, dia pun juga sudah bahagia... Janganlah kamu merusak semua kebahagiaan itu dengan keegoisanmu
Aku: Aku nggak mau apa-apa. Aku hanya ingin bilang dan mengutarakan semua perasaan ini. Aku ingin meluapkan semua rasa nggak enak agar aku bisa hidup tenang
Temanku: Lalu? Kamu yakin setelah itu kamu akan hidup tenang? Kamu yakin semuanya nggak akan menjadi lebih buruk? Apa kamu sudah memikirkan segala akibatnya?...
Aku: .....
Temanku: Sudahlah, simpan saja semua itu didalam hatimu. Anggap sebagai satu-satunya kenangan indahmu bersamanya... Jangan berusaha melupakan dengan cara menghapus semua ingatan, tapi lupakan dengan cara mengenang...

Shhh... Kalimat itu ada benarnya juga. Apa yang kukejar selama ini? Aku sudah bersikap naif dengan meyakinkan diriku bahwa aku hanya ingin 'bicara', bukan yang lain. Sounds pity, right? Padahal jelas-jelas aku masih mengharapkan hal lain. Konsekuensi yang tidak akan bisa aku terima...

So... Setelah bertahun-tahun, berbulan-bulan, dari satu masa ke masa yang lain, diwarnai berbagai perasaan, harapan, rasa putus asa, tawa, dan air mata... Akhirnya aku bisa mengatakannya...

kalimat yang sudah kujawab sendiri
yang selama ini hanya menganguk-anguk
yang selama ini berbicara tanpa kalimat

beribu kata sejuta makna 
ku lempar begitu saja tanpa ada yang tahu
pletak-pletuk jelas sekali terdengar
yang tersisa hanya setetes pena biru dan secuil kertas
berlahan kumerangkak mencoreti kertas itu
ahhhhh
lega juga rasanya
benar suatu pegertian yang bearti

satu malam, dua siang
500hz mancap ditelingaku
1000hz keluar begitu saja
berdua berteman dengan bintang
melanjutkan sinar pagi tadi pagi
melelahkan ternyata

sampai disini saja garis perjuanganku
selamat tinggal bintang... semoga kau tetap bercahaya diatas sana...

19.6.10

Komplikasi, Apa Obatnya?

Sudah genap 5 hari ini aku sakit. Berarti sudah 5 hari aku terkapar dan tidak melakukan kegiatan masak memasak. Sebenarnya kasihan juga ngeliat suamiku yang tiap hari ikhlas aku beri makan mi goreng atau tempe penyet saja... Tapi apa daya tubuh ini tak kuat. Berdiri sebentar sudah bikin aku pusing dan mual-mual.

Anehnya, aku nggak tahu aku ini sedang sakit apa. Diawali pada hari Rabu pagi, aku bangun dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk kepala bagian kiriku. Istilah ngetrend-nya Migran. Saking sakitnya aku sampai menangis dalam tidur. Tapi itu tak berlangsung lama, karena setelah meminum obat dan tertidur selama 1 jam, aku bangun dengan kondisi sehat.

Lalu pada hari Kamis sore, tubuhku tiba-tiba terserang demam tinggi. Badan panas, plus bonus gratis kepala pusing, sudah cukup buat aku terkapar tak berdaya semalaman penuh. Paginya? Aku kembali sehat...

Tapi ini belum selesai, sejak itu aku merasa tubuhku lebih lemas. Aku tidak bisa melakukan sesuatu dalam jangka waktu yang lama. Jangankan mencuci baju atau memasak, berdiri saja aku sudah ngos-ngos-an. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang, ditambah aku merasa tenggorokanku juga mulai terserang radang. (Alhamdulillah, satu-satunya kegiatan yang tidak terganggu adalah Online :D).

Otomatis, aku yang memang tidak tahan rasa sakit, harus mengkonsumsi obat-obatan agar mengurangi rasa sakit tersebut. Padahal aku tahu itu nggak bagus untuk kesehatan. Apalagi, penyakitku yang berubah-ubah ini mengharuskan aku untuk mengkonsumsi berbagai macam obat. Obat migran, obat flu, obat antiseptik... Dan aku berencana membeli obat khusus untuk masalah kewanitaan (pektay).

Tapi sejak kemarin aku sudah tidak meminum obat apapun. Jadi ceritanya pasrah gitu... Tapi tadi pagi suamiku menawarkan diri mengajakku ke doter. Dokter? Nggak adakah alternatif lain? Aku sudah 2 kali punya pengalaman nggak enak sama dokter. 2 kali aku mendengar vonis buruk, dan aku takut itu terulang lagi.

Sebenarnya aku ini sakit apa sih?

Aku Ingin Kembali Menari

Sudah bertahun-tahun lamanya aku tak menari. Aku masih ingat, terakhir kali aku menari saat masih kelas 6 SD. Jadi sudah berjalan lebih dari 15 tahun body ini tidak digerakkan. Saat SMP dan SMA aku masih menari juga sih, tapi waktu itu lebih ke Modern Dance karena lagi booming-nya boysband semacam Backstreet Boys dan sejenisnya. Dan walaupun selain itu aku juga suka olahraga, tapi tetap saja rasanya berbeda. Kangen banget sama gerakan slow penuh penghayatan yang lemah gemulai, cieee...

Kenapa tiba-tiba aku pengen kembali menari? Ini karena beberapa hari yang lalu, ada ajakan untuk menari di kotaku. Ini bukan latihan menari biasa, karena prospeknya lumayan bagus. Tiap satu bulan sekali kami bakalan tampil didepan orang banyak, dan kami juga bakalan diikutkan keberbagai ajang menari tingkat propinsi sampai luar negeri. Siapa yang mau melewatkan kesempatan ini coba? Apalagi, saat ini masih banyak tempat kosong, dan emang bener-bener lagi butuh personil.

Tapi, terkadang memang realita tak seindah kelihatannya... Dari awal aku sudah ragu akan satu hal, yaitu fisikku. Walaupun aku diajak langsung oleh pelatihnya, dan aku sangat percaya diri akan kemampuan menariku, tapi soal fisik aku nggak bisa ngomong apa-apa. Menari juga butuh penampilan. Dan aku tidak punya sikap tubuh sempurna seperti itu.

Dan saat aku bertanya pada suamiku, berharap dia akan memberiku satu alasan apakah aku harus ikut atau tidak, dia ternyata memberiku jawaban berbeda. Jika biasanya dialah orang yang paling mendukungku, membesarkan hatiku saat orang lain mencemooh, membuat rasa percaya diriku kembali bangkit, kali ini dia hanya menjawab singkat

suamiku: nggak usah ikut lah...
aku: kenapa?
suamiku: kamu juga nggak pe-de kan?
aku: iya sih...
suamiku: sudahlah, daripada nanti diomongin orang

JLEB! kata-kata itu begitu menusuk. Tapi aku sadar suamiku berkata benar. Dia bukannya tidak mendukung. Dia hanya tidak mau aku terluka lagi. Dia tidak mau melihatku kembali terpuruk... karena prestasiku harus kalah oleh masalah fisik. Dia juga tak ingin aku emosi dan menyimpan rasa dendam...

Jadi dengan berat hati aku menolak ajakan itu. Saudaraku berusaha menghibur dengan berjanji akan mengajariku sendiri dirumah. Ssshhh... Cukup ironis, tapi memang kenyataan seperti itu. Aku tidak mau tarian itu hancur karena adanya aku disana. Sungguh merusak pemandangan.. hahaha...

Sedih juga sih, karena untuk kesekian kalinya aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan. Tapi hidup tak berhenti kan? Mungkin masih banyak kegiatan lain yang bisa aku lakukan diluar sana...

gambar dipinjam disini

16.6.10

Jodoh Itu Tergantung Dari Ijasah Terakhir

Kebiasaan saya ber-pajamas party setiap 2 minggu sekali, selalu memberi kesan tersendiri. Karena saya dan saudara sepupu saya yang usianya beda 1 tahun selalu memanfaatkan moment tersebut untuk sesi curhat. Topiknya macam-macam. Entah karena 2 minggu sekali baru bisa ketemu, jadi semua langsung ditumpahkan dalam satu malam. Mulai dari urusan teman, pacar / suami, keluarga, sampai urusan kerjaan. Bahkan karena begitu asyiknya bahas sana sini, sampai-sampai kami selalu tidur jika jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Waduh!

Tapi minggu kemarin ada satu hal yang menarik perhatian saya, sekaligus membuat syaraf tersinggung saya sedikit tercolek. Waktu itu, saudara saya bercerita tentang pacarnya. Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya dia berkata, "setiap orang kan jelas memilih jodoh satu tingkat lebih tinggi diatasnya. Terutama orang kuliahan... Setiap orang kuliah pasti nyari jodoh minimal orang kuliahan juga. Gak mungkin kan orang kuliah milih jodoh buruh pabrik!"

Dari awal dia cerita, saya sudah menduga arahnya pasti kesitu. Jadi saya hanya diam, menunggu bagaimana respon selanjutnya. Setelah beberapa detik sama-sama membisu, dia lalu melanjutkan, "sori ya... bukannya aku nyindir kamu... kalo kamu pengecualian. Kan kamu kenalnya sejak sebelum kamu kuliah..."

Saya hanya tersenyum manis pedes kepadanya. Marah? Tidak. Tersinggung? Sedikit. Sebagai lulusan "orang kuliahan" dengan IPK lumayan tinggi (jadi pengen sombong dikit kalo gini!) dan bersuami seorang buruh pabrik lulusan SMK, tentu saya merasa tersindir. Memang ada aturan kayak gitu ya?...

Saya setuju dengan pendapat "Setiap orang kan jelas memilih jodoh satu tingkat lebih tinggi diatasnya". Tapi sangat tidak setuju jika ini dipatokkan dengan gambaran "Setiap orang kuliah pasti nyari jodoh minimal orang kuliahan juga". Mengapa? Karena pendapat tersebut tidak selalu benar. Kalimat kedua menjurus kepada jenjang pendidikan, sedangkan kalimat pertama lebih kepada kematangan. Sayangnya, pendapat tersebut sudah terlanjur mendalam dan menjadi sebuah aturan tak tertulis di masyarakat.

Menurut saya, setiap orang yang berpendidikan, cara berpikirnya berbeda dengan orang yang tidak mengecam pendidikan. Semakin tinggi tingkatan pendidikannya, maka cara berpikirnya akan semakin matang juga. Begitupun "orang kuliahan". Mereka tentu memilih jodoh yang lebih matang dari mereka. Dan ini bukan berarti jodoh tersebut tidak mungkin seorang lulusan SMA. Sekarang coba bandingkan, seorang anak mama bandel yang kuliah hanya untuk bersenang-senang saja, dan jadi mahasiswa abadi yang masa depannya nggak jelas sama sekali. Atau anak SMK yang sejak lulus sekolah sudah bekerja jadi buruh pabrik, dan sekarang sudah diangkat menjadi kepala personalia. Kita lebih memilih yang mana? Saya tidak tahu apa pilihan anda, tapi SAYA pasti memilih pilihan kedua.

Perkenankan saya bercerita sedikit tentang kehidupan cinta saya. Suami saya seorang buruh pabrik yang ulet dalam bekerja. Sejak lulus SMK, pekerjaan apapun ia jalani selama itu halal. Lalu, ketika saya kuliah, saya dihadapkan kepada pilihan dimana saya harus memilih antara pacar saya ini (suami) atau teman kuliah saya. Teman kuliah saya itu juga bekerja sehingga kuliahnya sedikit terkatung-katung. Saya bingung, apalagi orang tua tentu saja lebih memilih calon menantu dengan embel-embel "kuliah" kan? Tapi setelah PDKT sekian lama, akhirnya mata saya terbuka. Pacar saya memang tidak kuliah, tapi dia setia, melindungi, bertanggung jawab, pengertian, dan mengerti posisinya sebagai seorang laki-laki. Sedangkan teman kuliah saya itu malas, angkuh, genit, dan sangat menikmati masa-masa kuliahnya (sampai detik ini belum lulus juga). Syukurlah, saya segera sadar dan bisa meyakinkan orang tua saya jika pendapat mereka itu tak selalu benar.

Intinya, pendidikan tidak selalu menjadi patokan. Banyak orang diluar sana yang tidak beruntung merasakan pendidikan, tapi punya kemauan dan semangat untuk belajar otodidak. Dan bukan tidak mungkin mereka jauh lebih matang dari kita. Memang, kita harus memikirkan masa depan. Orang berpendidikan tinggi tentu karirnya lebih bagus. Tapi buat saya itu bukan jaminan. Karir, kesuksesan, rejeki, semua hanya berdasarkan kemauan dan tekad.

Jodoh itu bukan gaji pegawai yang dilihat berdasarkan Ijasah terakhirnya...

Ini hanya sedikit pendapat dari saya... Anda memiliki pendapat lain?