10.9.16

Aku Kembali



Hai, hai… Sudah 2 tahun berlalu… aku yakin gak ada yang kangen sama aku karena keliatan banget blogku sepi pengunjung. Hiks… Bahkan yang lebih sadis, blogku dihapus dari mesin pencarian google. Bagus, apa salahku pada google sehingga dia melenyapkan aku seperti ini???? KATAKAN KENAPA??? Ok, lupakan saja kelebay an saya…
2 tahun itu bukan waktu yang singkat. Beneran lho… Karena 2 tahun ini banyak hal yang sudah terjadi. Dan endingnya, semua itu merubah aku menjadi aku yang sekarang. Aku yang berbeda, dengan status baru dan hidup baru, lebih dewasa(lebih tepatnya tua) dan mulai berhijrah.
Aku tak ingin menjelaskan dengan detai apa yang sudah terjadi kemarin2 itu. Karena itu termasuk sebuah aib yang tidak membanggakan. Biarlah semua dijelaskan oleh waktu.. cie…
Yang pasti, mulai minggu kemarin aku kembali tergerak untuk bermimpi. Mimpi2 lama yang sempat terkubur mulai aku kais satu-persatu. Dan salah satunya adalah menulis. Untuk pemanasan, minggu kemarin aku ikut salah satu sayembara menulis kisah nyata dalam bentuk cerita pendek. Sayembara ini diadakan oleh penerbit Wahyu Qolbu. Temanya “Aku Menunggumu Menjemputku”. Karena tema ini kayaknya pas banget dengan orang-orang berstatus single yang sedang menunggu jodohnya, aku sempet diam ditempat. Gak ada ide. Karena mengingat statusku yang sudah double dan hampir pensiun (halah…). Aku juga seumur hidup belum pernah merasakan bagaimana menunggu jodoh yang baik menurut agama. Yah, dulu aku ketemu “jodohku” waktu jaman SMA, masih jaman jahiliyah.
Allah tiba-tiba membuka jalan untukku. Suatu hari salah satu temanku BBM dan curhat tentang kisah cintanya yang lumayan tragis. Pass buanget cuy!... Tanpa banyak cincong akhirnya aku buat curhatan itu dalam sebuah cerita pendek. Tentu tanpa ijin dan permisi ke pemiliknya (maafkan aku, hiks… ). Selama 3 hari aku menulis… Dan rasanya susaaaahhh. Sudah 2 tahun aku seakan mati suri, sekarang mencari ide itu kayaknya nyari jarum ditumpukan jerami. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya naskah berhasil selesai pada tanggal 2 September pukul 22.45. Sedangkan deadline pengiriman naskah selambatnya tanggal 2 September pukul 23.00. BAYANGKAN!!!... Sport jantung beneran… Tapi Alhamdulillah masih ada waktu walaupun mepet, dan naskahku diterima dengan selamat. Sekarang tinggal menunggu hasil penjurian….
Aku gak masalah menang atau kalah. Karena aku suka menulis. Dan aku menulis tidak selalu untuk menjual. Terkadang aku menulis hanya untukku sendiri. Urusan ada yang suka atau tidak sih, itu nomer kesekian. Karena aku juga tidak pernah berniat untuk menyakiti siapapun. Menulis hanya sebagai wadah untuk memaparkan berbagai imajinasi liarku. Sebuah kesenangan tersendiri…
Jadi… Selamat datang kembali di blog tercintaku. Akan ada beberapa perubahan konsep disana-sini. Karena memang mengikuti aku yang sekarang sudah berubah…
Selamat Membaca… ^^

21.8.14

I'm Happy to be Galau

Cukup lama gak bercuap-cuap disini, rasanya kangen juga. Selama ini sudah banyak sekali hal indah yang telah kulalui. Kelahiran Kyra, melihatnya tumbuh kembang menjadi malaikat kecilku, kesibukan menjalani keseharian sebagai seorang istri dan ibu, asyiknya berkutat dengan dunia online shop, dan masih banyak lagi. Hidupku semakin kesini semakin terasa sempurna. Tapi...

Yang selalu menjadi pertanyaan adalah... kenapa ditengah-tengah kebahagiaan aku selalu saja malas berkreasi lagi? Sudah beberapa kali aku mencoba kembali menggambar...tapi belum selesai rasanya sudah capek banget. Berpuluh-puluh kali membuka blog ini pun tetap saja tidak ada satu kalimat yang aku rasa tepat untuk jadi alasan menulis lagi. Novelku yang berhenti total di BAB 2 juga hanya menjadi bacaan ringan. tak ada sedikitpun keinginan untuk melanjutkan jalan ceritanya. Kenapa?

Dan sekarang... aku kembali menulis. Bisa ditebak memang, aku pasti sedang GALAU. Galau adalah satu kondisi yang berbanding lurus dengan sisi kreativitasku. Disaat aku galau, aku bisa membuat berbagai gambar dan tulisan. Disaat aku sedih, terpuruk, dan menangis, disitulah titik dimana aku harus meluapkan semua perasaanku kedalam suatu bidang... Positifkah? atau aku mengalami suatu keadaan yang abnormal?

Aku idealis dengan warna hitam. Sampai sampai saat jaman kuliah,setiap ada desain warna hitam,temen2ku langsung menebak itu pasti punyaku. Dan sampai sekarang juga setiap gambar dan desainku selalu dominan warna gelap. Kapan hari Salah satu temanku pernah bilang "cobalah melihat sesuatu dari sudut pandang positif, maka desainmu pasti akan lebih berwarna". Waktu itu aku menyimpulkan, bahwa mungkin ia menyarankan aku untuk mengeluarkan sisi bahagiaku. Jadi karyaku akan menjadi ceria. Tapi... Saat aku bahagia, aku tidak pernah berkeinginan untuk membuat apapun

Aku selalu bahagia menjadi galau. Karena saat itu lah aku bisa menjadi AKU

21.10.10

My Happiness is not Anyone's Problem

Aku bahagia...
Saat aku tahu kamu ada

Aku bahagia...
Menunggu kapan hadirmu tiba

Aku bahagia...
Karena aku menjadi wanita yang nyaris sempurna

Aku bahagia...
Sehingga tak tahu harus berkata apa...

Tapi...
Aku tidak jadi bahagia...
Ketika mereka kecewa

Aku tidak jadi bahagia...
Karena mereka tidak mengharapkan kita

Mengapa?
Apakah bahagiaku adalah masalah mereka?

Antara bahagia dan tidak... aku harus memilih yang mana???

1.10.10

The Distance From Us

I wondered if every road was connected to every other road. I wondered if I touched it, if maybe somewhere, you would know...  

Ternyata butuh lebih dari 4 tahun, pintu itu akhirnya terbuka. Lega? Pastinya... Tapi bukan berarti aku bahagia. Aku bahagia karena lega, tapi aku bukan lega karena bahagia. Ini 2 hal yang berbeda, dengan makna yang berbeda pula.

Kalimat "Menunggu itu membosankan, tapi terkadang kita memang harus menunggu... ternyata" yang ada dalam salah satu novel Mohammar Emka itu memang ada benarnya. Bahkan, seringkali apa yang kita tunggu datang disaat kita sudah bosan untuk menunggu lagi. Harapan kita terkabul saat kita sudah lelah untuk berharap. Keinginan serta keegoisan kita tercapai saat kita sudah ikhlas merelakannya.

Selama ini aku tak pernah berhenti berharap... bahwa pintu itu suatu saat akan terbuka. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa aku masih melihat sejumput cahaya kecil diujung sana. Tapi apa yang terjadi? Nothing to find... Tak ada sama sekali. Hingga keyakinan itu berangsur pudar. Dan sekarang, saat aku sudah lupa... ikhlas... rela... dan apapun itu namanya, cahaya itu benar2 ada. Terkejut memang, tapi bukan berarti aku kembali berharap.

Perasaan itu memang tidak pernah ada... Tapi seperti kalimat yang aku kutip diatas... Setiap jalan pasti berhubungan dengan jalan yang lain. Tanpa kusadari aku yakin, apapun yang aku lakukan dan harapkan disini, kamu pasti bisa merasakannya disuatu tempat diluar sana. Dan itu memang yang terjadi...

24.9.10

Pernikahanmu sahabatku...

 
On your joyful wedding day,
You begin a brand new life.
Friends and family give their gifts
To joyful husband, blissful wife.
But the greatest gift you'll ever get,
A gift from heaven above,
Is love forever, ending never,
Everlasting love.
You'll share life's joy and pleasure;
You'll have plenty of that, it's true.
But love is the real treasure
For your new spouse and you.
And if life hands you challenges,
As it does to one and all,
Your love will hold you steady
And never let you fall.
Your wedding day is full of joy;
Tomorrow you cannot see.
But one thing's sure for the two of you:
The best is yet to be.
 
By Joanna Fuchs
 
To: Sahabat kecilku, Astak Holidiyah... Selamat Menempuh Hidup Baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah...
Tak terasa ya? Sepertinya baru kemarin kita bermain stiker bersama2 :)

31.8.10

Belajar "Mendengar"

Mendengar memang pekerjaan mudah. Tapi benar-benar mendengar itulah yang terkadang kita sepelekan. Paling sering alasan yang muncul adalah karena bosan. Mungkin topik yang harus kita dengar tidak menarik, mungkin suara yang ada tidak begitu keras dan jelas, atau mungkin kita sedang memikirkan hal lain yang bagi kita jauh lebih penting.

Mengapa aku justru ingin mengangkat topik "mendengar" ini setelah lama vakum dari dunia maya? karena beberapa minggu ini aku memiliki kesibukan baru, yaitu bekerja. Dan ditengah-tengah kegiatan selama bekerja itulah ada satu sesi "bercerita" dan "mendengar" yang cukup menarik perhatianku.

Setiap hari, kami para staff bergiliran untuk memimpin briefing. Dan pada hari Sabtu, kami harus membawakan sebuah cerita yang mana nantinya akan ditanggapi oleh yang lain. Tentu saja ini membuat siapa yang tiba gilirannya menjadi kalang kabut. Sibuk mencari tema yang cocok, dan mempersiapkan mental lahir dan batin karena akan bicara didepan orang banyak.

Sudah 3 kali Sabtu aku "mendengar" orang lain bercerita. Sabtu pertama, awalnya aku tak begitu "mendengar" karena suaranya tidak jelas. Tapi karena ternyata cerita tersebut harus ditanggapi, maka mau tak mau aku harus mempertajam pendengaranku. Yah, agar nanti jika namaku yang disebut aku bisa memberikan pendapat dengan benar.

Sabtu kedua, aku mencoba untuk "mendengar", walaupun kali itu ceritanya out of topic. Temanya tentang kasih sayang. Jadi agak membosankan juga karena sedikit tidak cocok dengan suasana kerja. Saat itu, entah karena ceritanya yang membosankan, cara berceritanya yang berkesan hapalan, atau memang orang-orang sedang tidak konsen, sehingga tidak ada satupun yang menanggapi. Jadi briefing waktu itu terkesan aneh, biasa, dan diakhiri tawa (mengejek) dari staff yang lain. Kasihan... Sungguh-sungguh kasihan... Saat itulah aku sadar. Bagaimana jika aku yang menjadi orang yang "bercerita"?

Hari Sabtu kemarin briefing Sabtu ketigaku. Saat itu aku benar-benar "mendengar". Walaupun ceritanya agak bertele-tele dan mbulet, tapi aku belajar menghargai perasaan orang yang sedang bercerita. Aku tahu dia pasti bingung memilih cerita sejak beberapa hari yang lalu. Dia pasti berusaha menguatkan dirinya untuk bisa berbicara didepan orang banyak seperti ini, dengan resiko mungkin tidak semuanya yang akan "mendengar". Jadi, sudah cukuplah ada orang-orang yang tidak mau menghargai jerih payah orang lain dengan bergurau dan ngobrol sendiri, asalkan aku tidak termasuk diantaranya...

Apa sih susahnya "mendengar"? Jika saja kita mau meluangkan 10 menit saja waktu kita untuk konsentrasi pada sosok yang sedang "bercerita" didepan sana, jika saja kita mau menutup telinga kita dari sekitar dan khusus hanya "mendengar"kan satu orang saja, itu berarti kita sudah menghargainya. Bukankah kita harus menghargai orang lain jika kita sendiri ingin dihargai? Jika kita saja tidak bisa "mendengar, lalu bagaimana mungkin kita bisa "didengar"?

Dan akhirnya, Sabtu besok adalah briefing keempatku. Sebuah kebetulan yang tidak mengenakkan, karena tiba giliranKU-lah yang harus "bercerita"... Entahlah, aku hanya bisa pasrah. Semoga orang-orang mau sedikit belajar "mendengar" agar kami tidak merasa usaha kami tidak dihargai sama sekali...

Ayo, Ci... Semangaattt!!!

11.8.10

Kreatifitas di Tengah Pesta Kemerdekaan

Beberapa hari lagi Bangsa kita akan mengadakan pesta kemerdekaan. Dan sudah menjadi kebiasaan turun temurun, bulan ini selalu diisi penuh dengan berbagai kemeriahan acara dan lomba. Sebut saja beberapa agenda yang hampir tiap tahun selalu ada, Gerak Jalan, Karnaval, Jalan Sehat, hingga perlombaan di masing-masing desa. Ini belum ditambah lagi dengan agenda lain, misalnya tahun ini diadakan lomba Fashion dan Pertunjukan Wayang...

Dan aku termasuk salah satu warga yang dengan senang hati selalu menonton kegiatan-kegiatan tersebut. Salah satunya adalah Gerak Jalan alias Baris Berbaris, yang kebetulan tahun ini adikku yang masih SD ikut andil menjadi peserta.
Ini beberapa foto Baris Berbaris di wilayah Prigen dan Pandaan... Tetap ceria meskipun hujan mengguyur dan panas menyengat.


Tapi, diantara hiruk pikuk tersebut ada satu hal yang menarik perhatian saya. Yaitu sosok seorang anak yang bermain ditengah hujan... Lihatlah topi yang ia pakai, unik sekali bukan? Seperti di film-film Cina saja ya? Entah dapat inspirasi darimana orang yang membuat topi tersebut. Apakah memang topi semacam itu dijual di Indonesia (tapi dimana??? Aku juga mau dunk!)??? Yang pasti, kreatifitasnya patut kita acungi JEMPOL :D