31.8.10

Belajar "Mendengar"

Mendengar memang pekerjaan mudah. Tapi benar-benar mendengar itulah yang terkadang kita sepelekan. Paling sering alasan yang muncul adalah karena bosan. Mungkin topik yang harus kita dengar tidak menarik, mungkin suara yang ada tidak begitu keras dan jelas, atau mungkin kita sedang memikirkan hal lain yang bagi kita jauh lebih penting.

Mengapa aku justru ingin mengangkat topik "mendengar" ini setelah lama vakum dari dunia maya? karena beberapa minggu ini aku memiliki kesibukan baru, yaitu bekerja. Dan ditengah-tengah kegiatan selama bekerja itulah ada satu sesi "bercerita" dan "mendengar" yang cukup menarik perhatianku.

Setiap hari, kami para staff bergiliran untuk memimpin briefing. Dan pada hari Sabtu, kami harus membawakan sebuah cerita yang mana nantinya akan ditanggapi oleh yang lain. Tentu saja ini membuat siapa yang tiba gilirannya menjadi kalang kabut. Sibuk mencari tema yang cocok, dan mempersiapkan mental lahir dan batin karena akan bicara didepan orang banyak.

Sudah 3 kali Sabtu aku "mendengar" orang lain bercerita. Sabtu pertama, awalnya aku tak begitu "mendengar" karena suaranya tidak jelas. Tapi karena ternyata cerita tersebut harus ditanggapi, maka mau tak mau aku harus mempertajam pendengaranku. Yah, agar nanti jika namaku yang disebut aku bisa memberikan pendapat dengan benar.

Sabtu kedua, aku mencoba untuk "mendengar", walaupun kali itu ceritanya out of topic. Temanya tentang kasih sayang. Jadi agak membosankan juga karena sedikit tidak cocok dengan suasana kerja. Saat itu, entah karena ceritanya yang membosankan, cara berceritanya yang berkesan hapalan, atau memang orang-orang sedang tidak konsen, sehingga tidak ada satupun yang menanggapi. Jadi briefing waktu itu terkesan aneh, biasa, dan diakhiri tawa (mengejek) dari staff yang lain. Kasihan... Sungguh-sungguh kasihan... Saat itulah aku sadar. Bagaimana jika aku yang menjadi orang yang "bercerita"?

Hari Sabtu kemarin briefing Sabtu ketigaku. Saat itu aku benar-benar "mendengar". Walaupun ceritanya agak bertele-tele dan mbulet, tapi aku belajar menghargai perasaan orang yang sedang bercerita. Aku tahu dia pasti bingung memilih cerita sejak beberapa hari yang lalu. Dia pasti berusaha menguatkan dirinya untuk bisa berbicara didepan orang banyak seperti ini, dengan resiko mungkin tidak semuanya yang akan "mendengar". Jadi, sudah cukuplah ada orang-orang yang tidak mau menghargai jerih payah orang lain dengan bergurau dan ngobrol sendiri, asalkan aku tidak termasuk diantaranya...

Apa sih susahnya "mendengar"? Jika saja kita mau meluangkan 10 menit saja waktu kita untuk konsentrasi pada sosok yang sedang "bercerita" didepan sana, jika saja kita mau menutup telinga kita dari sekitar dan khusus hanya "mendengar"kan satu orang saja, itu berarti kita sudah menghargainya. Bukankah kita harus menghargai orang lain jika kita sendiri ingin dihargai? Jika kita saja tidak bisa "mendengar, lalu bagaimana mungkin kita bisa "didengar"?

Dan akhirnya, Sabtu besok adalah briefing keempatku. Sebuah kebetulan yang tidak mengenakkan, karena tiba giliranKU-lah yang harus "bercerita"... Entahlah, aku hanya bisa pasrah. Semoga orang-orang mau sedikit belajar "mendengar" agar kami tidak merasa usaha kami tidak dihargai sama sekali...

Ayo, Ci... Semangaattt!!!

0 komentar:

Posting Komentar