19.6.10

Aku Ingin Kembali Menari

Sudah bertahun-tahun lamanya aku tak menari. Aku masih ingat, terakhir kali aku menari saat masih kelas 6 SD. Jadi sudah berjalan lebih dari 15 tahun body ini tidak digerakkan. Saat SMP dan SMA aku masih menari juga sih, tapi waktu itu lebih ke Modern Dance karena lagi booming-nya boysband semacam Backstreet Boys dan sejenisnya. Dan walaupun selain itu aku juga suka olahraga, tapi tetap saja rasanya berbeda. Kangen banget sama gerakan slow penuh penghayatan yang lemah gemulai, cieee...

Kenapa tiba-tiba aku pengen kembali menari? Ini karena beberapa hari yang lalu, ada ajakan untuk menari di kotaku. Ini bukan latihan menari biasa, karena prospeknya lumayan bagus. Tiap satu bulan sekali kami bakalan tampil didepan orang banyak, dan kami juga bakalan diikutkan keberbagai ajang menari tingkat propinsi sampai luar negeri. Siapa yang mau melewatkan kesempatan ini coba? Apalagi, saat ini masih banyak tempat kosong, dan emang bener-bener lagi butuh personil.

Tapi, terkadang memang realita tak seindah kelihatannya... Dari awal aku sudah ragu akan satu hal, yaitu fisikku. Walaupun aku diajak langsung oleh pelatihnya, dan aku sangat percaya diri akan kemampuan menariku, tapi soal fisik aku nggak bisa ngomong apa-apa. Menari juga butuh penampilan. Dan aku tidak punya sikap tubuh sempurna seperti itu.

Dan saat aku bertanya pada suamiku, berharap dia akan memberiku satu alasan apakah aku harus ikut atau tidak, dia ternyata memberiku jawaban berbeda. Jika biasanya dialah orang yang paling mendukungku, membesarkan hatiku saat orang lain mencemooh, membuat rasa percaya diriku kembali bangkit, kali ini dia hanya menjawab singkat

suamiku: nggak usah ikut lah...
aku: kenapa?
suamiku: kamu juga nggak pe-de kan?
aku: iya sih...
suamiku: sudahlah, daripada nanti diomongin orang

JLEB! kata-kata itu begitu menusuk. Tapi aku sadar suamiku berkata benar. Dia bukannya tidak mendukung. Dia hanya tidak mau aku terluka lagi. Dia tidak mau melihatku kembali terpuruk... karena prestasiku harus kalah oleh masalah fisik. Dia juga tak ingin aku emosi dan menyimpan rasa dendam...

Jadi dengan berat hati aku menolak ajakan itu. Saudaraku berusaha menghibur dengan berjanji akan mengajariku sendiri dirumah. Ssshhh... Cukup ironis, tapi memang kenyataan seperti itu. Aku tidak mau tarian itu hancur karena adanya aku disana. Sungguh merusak pemandangan.. hahaha...

Sedih juga sih, karena untuk kesekian kalinya aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan. Tapi hidup tak berhenti kan? Mungkin masih banyak kegiatan lain yang bisa aku lakukan diluar sana...

gambar dipinjam disini

0 komentar:

Posting Komentar