1.7.10

Harta Vs. Cinta

"Aku ini KAYA. Aku punya segalanya. Aku punya mobil, rumah, perusahaan... Semua itu buat kamu kalo kamu mau menerima cintaku...!" Kata sang cowok sambil menggebu-gebu. Tapi cewek didepannya hanya menggeleng perlahan.
"Aku nggak bisa menerima itu mas..."
"Kenapa? Aku kurang apa? Seumur hidup baru kali ini aku ditolak cewek! Dalam daftar kehidupan cintaku, semua cewek pasti luluh jika aku ajak shopping! Aku kurang apa lagi sih?"

Ini bukan adegan dalam sinetron... Ini kenyataan yang aku temui disekitarku. Awalnya aku sendiri juga nggak menyangka ternyata ada orang yang berpikiran seperti itu. Begitu bangga pada hartanya sehingga ia merasa bisa membeli apa saja temasuk CINTA.

Dia memang berhak bersikap seperti itu, walaupun aku nggak setuju dengan jalan pikirannya. Menurut catatan sejarah masa lalunya, pernikahan terdahulunya gagal karena masalah harta. Dia ditinggalkan oleh istrinya karena tidak punya apa-apa. Jadi sekarang, saat dia benar-benar kaya atas usahanya sendiri, dia merasa sedikit angkuh. Dia pikir semua cewek sama seperti istrinya yang melihat cowok hanya dari isi dompet. Padahal, nggak semua cewek seperti itu kan?

Terang saja semua mantan ceweknya selalu luluh jika diajak shopping. Karena selama ini "cewek-cewek matre kelaut aje"-lah yang berhasil ia gaet. Hanya cewek seperti itu yang tertarik padanya. Bagaimana tidak? Jika awal perkenalan dia sudah menyebutkan daftar kekayaannya :

"Perkenalkan... Nama saya Anu, duda berusia 28 tahun. Saya bekerja sebagai pemilik tunggal perusahaan Anu, Saya punya 2 mobil mewah, 1 rumah, 1 tanah, dan saldo tabungan saya di bank cukup untuk memenuhi kehidupan saya sampai 7 turunan."

Mendengar seperti itu, tidak mengherankan jika cewek-cewek yang mendekatinya adalah cewek-cewek matrelialistis. Sedangkan cewek-cewek biasa dan pintar, yang melihat cinta dalam arti yang sebenarnya, sebagian besar pasti langsung merasa ilfeel. Rasa takut, minder, dan merasa bisa dibeli pasti mampir dalam pikiran mereka.

Memang, si cowok merasa trauma akan kegagalannya terdahulu. Dia membela diri dengan menyatakan bahwa semua itu bentuk rasa cintanya. Dia bekerja, dia berusaha, dia mengumpulkan uang semua demi cinta. Semua hartanya ia berikan kepada orang yang dia cintai. Tapi jika dengan cara seperti itu bagaimana dia bisa menemukan orang yang tulus cinta padanya dan bukan pada hartanya?...

Harta dan cinta memiliki tempat dan porsinya yang masing-masing. Dan menurut orang sepertiku, yang pemimpi dan memandang cinta sebagai sesuatu yang tulus, indah, sakral dan tanpa pamrih... Keduanya tidak bisa disangkut-pautkan satu sama lain. Harta adalah harta, dan cinta adalah cinta. Cinta tidak bisa dirubah dengan jumlah harta, dan harta juga takkan bisa membeli cinta seberapa banyakpun ia...

Anda setuju?... :)

0 komentar:

Posting Komentar