5.2.10

Seorang Ayah Dalam Hidupku

Sebenarnya, aku nggak pernah punya niat untuk menceritakan sosok seorang ayah disini. Tapi setelah barusan membaca sebuah tulisan tentang seorang ayah, aku langsung tertegun. Otomatis, aku langsung ingat ayah dan segala yang ada dalam dirinya...

Ayahku masih muda. Usia kami hanya terpaut 20 tahun. Dan ini sebuah keuntungan karena kami tak seperti berada di dunia yang berbeda. Generasi kami kurang lebih sama. Beda2 dikit, gpp lah...toh kami juga masih bisa menerimanya.

Ayahku pendiam. Sangaaatttt pendiam. Saking pendiamnya, malah selama beberapa tahun kami jarang banget berkomunikasi. Walaupun berada dalam satu rumah, komunikasi antara kami berdua hanyalah sekedar pamit dan salam. Tapi syukurlah, sekarang situasi dingin itu berangsur luluh. Kami sudah bisa bercanda, meskipun kadang aku masih bingung mau membuka pembicaraan seperti apa.

Ayahku serba bisa. Aku benar2 mengidolakannya dalam hal kepintaran dan kemampuan. Ayah kreatif, dan bisa mengerjakan apapun. Walaupun kadang sifatnya "meremehkan orang" itu lumayan menjengkelkan. Tapi yang membuatku salut, ayahku seorang pekerja keras. Dia suka bekerja dan mencintai pekerjaannya. Aku tahu tentu bukan hal yang mudah memulai sebuah pekerjaan dari 0, dari bawah banget. Tapi melihat ayahku sekarang, merupakan sebuah bukti nyata, kalau memang semua itu butuh kerja keras pada awalnya.

Ayahku juga keren. Dulu aku sempet takut sama kumis rimbunnya. Tapi lama kelamaan, aku sadar. Sepertinya ayah gak bakalan sekeren ini tanpa kumis. Dengan baju wajib: kaos oblong dan jeans belel sobek bagian lututnya (tapi sekarang kayaknya udah dibuang semua sama ibu. Udah ketuaan katanya. hehhehe), sepatu kets, main gitar (kadang aku berpikir kalo GITAR adalah istri kedua ayah), menurutku ayahku adalah ayah terGAUL didunia.

Tapi dibalik semua kekagumanku... aku masih memendam suatu perasaan. Perasaan yang sudah mengendap dalam hati untuk sekian lama. Bagaimana sebenarnya perasaan ayah???

Mengingat bahwa kami memiliki banyak sekali persamaan minat dan hobi. Misal:
1. Gambar. Ayah pintar menggambar. dan bakatnya itu menurun ke aku. Hanya AKU!
2. Musik. Kayaknya gara2 dari kecil dengerin musik Rock terus, sampai sekarang aku jadi penggemar sejati. Dream Theatre, Metallica, Scorpion, Halloween, Bon Jovi, kayaknya itu musik yang aku konsumsi setiap harinya sejak dalam kandungan (wuuzzz!! Mantap! Mozart lewat dah!). Bahkan, saat sekarang aku mulai menggemari musik abad 20, kayak AVenged Sevenfold atw My Chemical Romance, ayahku ikut2an suka!
3. Main Musik. Wah! kalo ini seh kayaknya gak begitu sama. Karena bakat ayahku bermain gitar, jelas2 menurun pada adikku yang nomer 2. Sedangkan aku, hanya kebagian sedikit2 saja. Tapi jangan salah, aku nggak pantang menyerah. Gini2 pernah main band dan sempet megang berbagai macam alat lho... Gitar, Keyboard, Drum, Bass, semua pernah aku mainin walaupun hanya sebatas BISA, dan bukan AHLI. Padahal satu cita2ku yang gak kesampaian. Aku pengen nyanyiiii!!! >.<
4. Film. Aku inget, waktu kecil, ayah dan ibuku selalu mengajakku ke bioskop untuk nonton. Waktu itu masih jamannya Terminator seh. Tapi lumayan menambah pengetahuanku soal film. Sejak kecil aku udah hafal sama Arnold, Stallone, Mel Gibson, dan angkatannya...(tp herannya aku gak kenal artis lokal sebangsa Barry Prima dkk)
Sungguh aneh sekali kalo nyatanya aku dan ayah tak dekat sama sekali. Bahkan lebih bisa dibilang anti atau musuhan. Selama ini seh aku tak tahu apa salahku sehingga seumur hidup aku mendapat sikap dingin seperti itu. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat ayah. Aku ingin ayah bangga padaku. Aku nggak ingin, saat kami berhadapan, aku merasa jadi anak paling bodoh dan tak bisa apa2. Aku ingin ayah tersenyum padaku... Dan naifnya, aku masih saja meyakinkan diriku, kalau Ayah hanya tak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa sayangnya...

Tapi 20 tahun. Bayangkan, 20 tahun! Selama itu suasana dingin membatasi kami. Apapun yang kulakukan sepertinya tak pernah benar atau dianggap oleh ayah. Aku juara kelas di sekolah, aku menang lomba, karyaku dimuat di koran, aku lulus dengan cumlaude, kerja dengan gaji lumayan, semua itu seperti tak ada artinya. Aku tetap anaknya yang tak bisa apa2.

Syukurlah, tahun kemarin, semua itu berubah. Tirai transparan antara kami akhirnya tersibak. Aku tahu alasan ayah bersikap seperti itu, dan anehnya aku bisa memaafkan dan memakluminya dengan mudah. Mungkinkah aku bersikap dewasa? atau sok tua? Entahlah, aku hanya tahu ayah hanyalah korban. Dan aku yakin ayah tulus mau berubah dan menebus semua sikap dinginnya padaku.
Aku tahu bahwa selama ini ayah sayang padaku. Tapi perasaannya-lah yang membuat dia harus bersikap seperti itu...

Sekarang, saat aku pulang kerumah di akhir minggu, ayah selalu ada disana dengan senyumnya. Saat aku berangkat di hari senin, ayah mengantarku ke depan rumah... Kalian tahu? Ini adalah salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Dan aku sangat bersyukur masih memiliki kesempatan untuk merasakannya...

LUV U DAD... <3

0 komentar:

Posting Komentar