16.6.10

Jodoh Itu Tergantung Dari Ijasah Terakhir

Kebiasaan saya ber-pajamas party setiap 2 minggu sekali, selalu memberi kesan tersendiri. Karena saya dan saudara sepupu saya yang usianya beda 1 tahun selalu memanfaatkan moment tersebut untuk sesi curhat. Topiknya macam-macam. Entah karena 2 minggu sekali baru bisa ketemu, jadi semua langsung ditumpahkan dalam satu malam. Mulai dari urusan teman, pacar / suami, keluarga, sampai urusan kerjaan. Bahkan karena begitu asyiknya bahas sana sini, sampai-sampai kami selalu tidur jika jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Waduh!

Tapi minggu kemarin ada satu hal yang menarik perhatian saya, sekaligus membuat syaraf tersinggung saya sedikit tercolek. Waktu itu, saudara saya bercerita tentang pacarnya. Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya dia berkata, "setiap orang kan jelas memilih jodoh satu tingkat lebih tinggi diatasnya. Terutama orang kuliahan... Setiap orang kuliah pasti nyari jodoh minimal orang kuliahan juga. Gak mungkin kan orang kuliah milih jodoh buruh pabrik!"

Dari awal dia cerita, saya sudah menduga arahnya pasti kesitu. Jadi saya hanya diam, menunggu bagaimana respon selanjutnya. Setelah beberapa detik sama-sama membisu, dia lalu melanjutkan, "sori ya... bukannya aku nyindir kamu... kalo kamu pengecualian. Kan kamu kenalnya sejak sebelum kamu kuliah..."

Saya hanya tersenyum manis pedes kepadanya. Marah? Tidak. Tersinggung? Sedikit. Sebagai lulusan "orang kuliahan" dengan IPK lumayan tinggi (jadi pengen sombong dikit kalo gini!) dan bersuami seorang buruh pabrik lulusan SMK, tentu saya merasa tersindir. Memang ada aturan kayak gitu ya?...

Saya setuju dengan pendapat "Setiap orang kan jelas memilih jodoh satu tingkat lebih tinggi diatasnya". Tapi sangat tidak setuju jika ini dipatokkan dengan gambaran "Setiap orang kuliah pasti nyari jodoh minimal orang kuliahan juga". Mengapa? Karena pendapat tersebut tidak selalu benar. Kalimat kedua menjurus kepada jenjang pendidikan, sedangkan kalimat pertama lebih kepada kematangan. Sayangnya, pendapat tersebut sudah terlanjur mendalam dan menjadi sebuah aturan tak tertulis di masyarakat.

Menurut saya, setiap orang yang berpendidikan, cara berpikirnya berbeda dengan orang yang tidak mengecam pendidikan. Semakin tinggi tingkatan pendidikannya, maka cara berpikirnya akan semakin matang juga. Begitupun "orang kuliahan". Mereka tentu memilih jodoh yang lebih matang dari mereka. Dan ini bukan berarti jodoh tersebut tidak mungkin seorang lulusan SMA. Sekarang coba bandingkan, seorang anak mama bandel yang kuliah hanya untuk bersenang-senang saja, dan jadi mahasiswa abadi yang masa depannya nggak jelas sama sekali. Atau anak SMK yang sejak lulus sekolah sudah bekerja jadi buruh pabrik, dan sekarang sudah diangkat menjadi kepala personalia. Kita lebih memilih yang mana? Saya tidak tahu apa pilihan anda, tapi SAYA pasti memilih pilihan kedua.

Perkenankan saya bercerita sedikit tentang kehidupan cinta saya. Suami saya seorang buruh pabrik yang ulet dalam bekerja. Sejak lulus SMK, pekerjaan apapun ia jalani selama itu halal. Lalu, ketika saya kuliah, saya dihadapkan kepada pilihan dimana saya harus memilih antara pacar saya ini (suami) atau teman kuliah saya. Teman kuliah saya itu juga bekerja sehingga kuliahnya sedikit terkatung-katung. Saya bingung, apalagi orang tua tentu saja lebih memilih calon menantu dengan embel-embel "kuliah" kan? Tapi setelah PDKT sekian lama, akhirnya mata saya terbuka. Pacar saya memang tidak kuliah, tapi dia setia, melindungi, bertanggung jawab, pengertian, dan mengerti posisinya sebagai seorang laki-laki. Sedangkan teman kuliah saya itu malas, angkuh, genit, dan sangat menikmati masa-masa kuliahnya (sampai detik ini belum lulus juga). Syukurlah, saya segera sadar dan bisa meyakinkan orang tua saya jika pendapat mereka itu tak selalu benar.

Intinya, pendidikan tidak selalu menjadi patokan. Banyak orang diluar sana yang tidak beruntung merasakan pendidikan, tapi punya kemauan dan semangat untuk belajar otodidak. Dan bukan tidak mungkin mereka jauh lebih matang dari kita. Memang, kita harus memikirkan masa depan. Orang berpendidikan tinggi tentu karirnya lebih bagus. Tapi buat saya itu bukan jaminan. Karir, kesuksesan, rejeki, semua hanya berdasarkan kemauan dan tekad.

Jodoh itu bukan gaji pegawai yang dilihat berdasarkan Ijasah terakhirnya...

Ini hanya sedikit pendapat dari saya... Anda memiliki pendapat lain?

0 komentar:

Posting Komentar